Jumat, 13 Juni 2014

Human Life Domains 2 : Education, Health, Environment



Education
Pandangan bahwa pendidikan sebagai “social thing”,  Durkheim mengungkapkan bahwa pendidikan itu bukanlah satu bentuk, dalam arti ideal maupun aktualnya, tetapi bermacam-macam. Seberapa banyak macam yang dimaksud, mengikuti banyaknya perbedaan lingkungan di kalangan masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, akan menentukan tipe-tipe pendidikan yang diselenggarakan.
Pendidikan merupakan alat untuk mengembangkan kesadaran diri sendiri dan kesadarn social (the individual self, and the social self, the I and the We, or homoduplex) menjadi paduan yang stabil, disiplin, dan utuh secara bermakna. Penyelaman dan pencernaan nilai-nilai dan disiplin oleh Durkheim dianggap sebagai syarat inisiasi anak terhadap masyarakat. Pendidikan berperan penting dalam menjaga nilai-nilai moral yang menjadi landasan bagi tumbuh kembang masyarakat. Durkheim menggambarkan betapa generasi muda memerlukan bantuan pendidikan untuk mempersiapkan diri memasuki kehidupan di tengah masyarakat yang memiliki tata nilai tertentu. Persiapan itu diperlukan karena pemuda pada dasarnya belum siap memasuki kehidupan masyarakat. Sasaran pendidikan adalah mengembangkan kekuatan fisik, intelektual, dan moral yang dibutuhkan oleh lingkungan masyarakat
Lebih lanjut, menurut Durkheim, pendidikan memiliki beberapa fungsi, yaitu:
Memperkuat solidaritas social
Membuat individu merasa menjadi bagian dari kelompok dan dengan demikian akan mengurangi kecendurangan untuk melanggar aturan
Mempertahankan peranan social
Sekolah adalah masyarakat dalam bentuk miniature. Sekolah mempunyai hierarki, aturan, tuntutan yang sama dengan “dunia luar”. Sekolah mendidik orang muda memenuhi berbagai peranan
Mempertahankan pembagian kerja
Membagi-bagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecakapan. Mengajar siswa untuk mencari pekerjaan sesuai dengan kecakapan mereka

Health and The Environment


Sociologycal Perspective
      Health : Menurut Leavell & Clark (1965 : 14), kesehatan adalah keadaan fisik, mental, dan kesejahteraan sosial. Dan bukan hanya sekedar tidak adanya penyakit dan kelemahan. Kesehatan merupakan hasil konstruksi sosial, ini juga dapat kita lihat dalam konteks sosial.






Functionalist Approach
      "Sakit" pada manusia sebaiknya harus dikontrol agar tidak terlalu banyak orang yang dibebaskan dari tanggung jawab sosial yang mereka miliki. Sick Role adalah harapan masyarakat terhadap perilaku seseorang yang dipandang sebagai orang yang "sakit". Dalam hal ini, dokter berfungsi sebagai "gatekeeper" bagi Sickrole yang telah dijelaskan.
Conflict Approach

     Medicalization of Society : Berkembangnya peranan obat sebagai institusi utama dalam kontrol sosial ada 3, yaitu memperluas keahlian, melihat suatu masalah dengan perspektif medis, dan mempertahankan yuridiksi akan perawatan kesehatan. Inequalities in Health Care

Interactionist Approach
1. Mempelajari peran yang dimainkan para profesional dalam bidang kesehatan, dan pasien.
2. Menegaskan pasien bahwa pasien mungkin memberi peran aktif dalam kesehatan, baik positif ataupun negatif.

Labelling Approach
     Bagaimana sebutan "sehat" atau "sakit" dapat dengan mudah melibatkan definisi sosial di masyarakat. Contoh : menyebut seseorang "homoseksual", "autis", "lesbian" adalah contoh penting dari kasus labeling.


Environment
     Lingkungan, apabila mendengar kata lingkungan yang terpikir dalam benak kita ialah keruakan – kerusakan yang terjadi diakibatkan lingkungan. Berikut ini beberapa penjelasan yang menyangkut hal tersebut. 

Degradasi Sumber Daya Tanah/Lahan.
     Tanah permukaan (biasa disebut lahan) merupakan tempat sebagian besar makhluk hidup berada dan beraktivitas sesuai dengan kodratnya masing-masing pada lingkungan “habitat” yang berbeda-beda. Kerusakan tanah/lahan akan berpengaruh terhadap habitat semua makhluk hidup yang ada di dalamnya dan kerusakan habitat sangat berpengaruh terhadap kelangsungan makhluk hidup yang disangganya. Beberapa indikator kerusakan tanah/lahan :
·       Semakin banyaknya lubang-lubang bekas galian mineral tambang atau bekas galian tanah untuk pembuatan “bata” dan genting yang dibiarkan tanpa upaya reklamasi.
·       Semakin banyaknya areal semak-semak belukar dan tanah gundul bekas penebangan hutan ilegal dan peladangan bakar yang tidak dihijaukan kembali.
·       Semakin menurunnya tingkat kesuburan tanah/lahan untuk budidaya pertanian, karena siklus pemanfaatan lahan yang terlalu intensif tanpa upaya penyuburan kembali (refertilization).
·       Semakin banyaknya terjadi tanah longsor di daerah kemiringan tinggi (pegunungan/perbukitan), dan tanah terbuka bekas penggalian tambang permukaan (emas, timah, batubara dan lain-lain).

Degradasi Sumber Daya Air.
·       Semakin kecilnya debit air sungai dari tahun ke tahun.
·       Semakin besarnya perbedaan debit air sungai pada musim hujan dengan musim kemarau.
·       Semakin dalamnya permukaan air tanah dan mengeringnya sumur penduduk di daerah ketinggian.
·       Adanya penetrasi air asin pada sumur penduduk di beberapa kota pantai/pesisir.
·       Semakin kecilnya “Catchment Water Areas” (daya serap lahan terhadap curahan air hujan).
·       Semakin tingginya pencemaran air sungai (terutama sungai-sungai di Pulau Jawa).



 Sumber Daya Flora dan Fauna.
·       Semakin menyepitnya luas areal hutan lindung/hutan alami sebagai akibat “illegal logging”, (pencurian kayu) terutama di Pulau Jawa.
·       Semakin luasnya HPH dan HTI yang kurang diimbangi dengan upaya reboisasi yang berhasil (karena seringnya dimanipulasi).
·       Semakin maraknya pertanian ilegal di kawasan tanah/hutan negara akibat desakan kebutuhan penduduk miskin, terutama di pulau Jawa.
·       Semakin berkurangnya keragaman/jumlah “species” tumbuhan dan hewan liar, karena banyak yang telah punah sebagai akibat kebakaran hutan dan perburuan hewan yang sering terjadi.


The Impact of Globalization


       Pemanasan global atau “globalisasi” dapat memberikan dampak baik dan buruk terhadap lingkungan sekitar. Banyak hal yang mempengaruhi globalisasi, diantaranya industrialisasi yang mengakibatkan peningkatan polusi, perusahaan multinasional yang intensif untuk mempertimbangkan biaya sumber daya alam, dan pengungsi lingkungan adalah salah satu refleksi dari interaksi antara globalisasi dan lingkungan.  
  
 

 
Refleksi :
Jika dilihat dari sisi pendidikan sudah seharusnya kita meningkatkan pendidikan di Indonesia yang dilihat kurang baik demi masa depan yang lebih cerah. Namun apabila lingkungan, bukan tak mungkin tidak berhubungan dengan kesehatan. Karena bagaimana kita merawat lingkungan itulah cerminan bagaimana kita merawat kesehatan diri kita sendiri.



     Daftar Pustaka : 

Hendra, Cucu. (2012). MANUSIA ALAM. Diambil tanggal 13 Juni, dari http://cucuhendra.blogspot.com/2012/10/konflik-lingkungan-penyebab-dan.html

P3rikecil's Weblog. (2013). Pendidikan dalam perspektif sosiologi. Diambil tanggal 13 Juni, dari http://p3rikecil.wordpress.com/2013/02/07/pendidikan-dalam-perspektif-sosiologi/


Slide Binus Maya. (2014). Human Life Domains 2 :  Education, Health, Environment. Jakarta : Bina Nusantara University

 

 

2 komentar:

  1. Artikel anda sangat bermanfaat khususnya saya pribadi,sudah seharusnya meningkatkan mutu pendidikan di indonesia. Sedikit kritik tolong disertakan tahun berapa data tsb pada gambar 1 dan tabel 1.terimakasih

    BalasHapus
  2. Saya sangat suka sekali dengan pernyataannya Durkheim yang menjelaskan apa arti penting dari sebuah pendidikan, Itu sangat memotivasi sekali buat saya. Good job diva :)

    BalasHapus