Selasa, 25 Maret 2014

Human Reflections ( Abad Pertengahan Filsafat )


   Dalam usaha untuk mencapai pengetahuan mengenai kodrat tak tercipta yang mencipta ini, manusia dapat menggunakan jalan affirmative dan nonaffirmatif. Dengan jalan affirmative kita menegaskan sifat sifat positif dari ciptaan sebagai hasil penyebaban oleh Allah. Dua jalan ini dipinjar oleh Scotus dari Ps. Dyonisius. Atau pengaruh Ps. Dyonisius pula bahwa Scotus menganjurkan agar Allah tidak disebut Kebenaran atau Kebijaksanaan atau  Essensi, sebab tidak ada sebutan yang dipinjam dari ciptaan dapat digunakan bagi Allah dalam arti yang tepat akan sebutan – sebutan itu diterapkan kpada Allah secara metamorphosis. Bagi Scotus, jalan negative lebih penting, karena arti kata “Maha” tidak pernah terjangkau oleh budi manusia, sehingga bagi budi sama dengan tidak jelas artinya. Maka meskipun kita tahu bahwa Allah ada, kita tidak tahu apa itu Allah, “Apa” nya Allah tidak dapat dimengerti oleh manusia karena Ia mengatasi budi. Sama kategori tidak dapat dikenakan kepada Allah secara memadai.

     Kalau semua kategori tidak dapat dikenakan kepada Allah, mungkinkah menerapkan kata “gerak” kepada Allah? Tidak! Bahkan mencipta atau membuat pun bukanlah melekat pada Allah. Bagaimana dengan ajaran Kitab Suci bahwa Allah menciptakan segala sesuatu? Scotus menjawab: Pertama, kita tidak dapat mengatakan bahwa Allah berada sebelum karya ciptaanNya, berarti bahwa Allah terlibat dalam waktu dan tindakannya hanyalah merupakan aksiden. Hal ini tidak mungkin. Maka karya Allah harus abadi seperti Dia sendiri abadi adanya.   Kedua, bahkan seandainya karya Allah abadi dan dentik denganNya, dan bukan eksiden di dalam Allah, kita tidak dapat mengatakan bahwa Allah mempunyai gerak. Lalu apa artinya bahwa Allah menciptakan segalanya? Jawab-nya : “Kalau kita mendengar bahwa Allah menciptakan segalanya, kita harus mengertinya bahwa Allah berada di dalam segalanya, yaitu bahwa Allah merupakan essensi segalanya”.?

     Sementara Scotus menekankan perbedaan antara Allah dan ciptaan, ia ingin juga menekankan pengertian akan Allah sebagai suatu Kenyataan yang memuat segalanya. Sejauh setiap ciptaan merupakan partisipapsi di dalam Dia, satu – satunya yang ada dari dirinya sendiri, semua kodrat dapat direduksi ke satu Prinsip, yaitu Pencipta, dan pencipta beserta seluruh ciptaan dapat dipandang sebagai suatu kesatuan.

B. Nature Create Creane

    Bagian kedua dari kodrat menunjuk kepada “sebab-sebab primordial atau “predestinationes” ini merupakan sebab exemplar dari species tercipta dan sebab – sebab itu hadir di dalam sabda.

  Bukankah ini merupakan pantheisma a la Spiroza?

     Allah: mereka adalah ide-ide ilahi, prototype dari semua essensi tercipta, Kelahiran Sang Sabda atau Putara melibatkan tata abadi dari sebab – sebab exemplar di dalam Sang Sabda. Kelahiran Sang Sabda bukanlah proses temporal, melainkan proses abadi. Demikian juga halnya dengan tata praedestinationes. Prioritas Sabda terhadap sebab – sebab exampler merupakan prioritas logis dan bukannya temporal. Munculnya sebab – sebab exampler ini merupakan bagian dari prosesi Sang Sabda melalui”kelahiran’, dan hanya dalam arti inilah bahwa mereka dapat dikatakan sebagai diciptakan. Sama ciptaan mengambil bagian di dalam sebab – sebab exemplar, misalnya kebijaksanaan di dalam Sang Bijkaksana.


Sumber : Slide Binus Maya.

Selasa, 18 Maret 2014

Religion ( agama )



Apa itu Agama?

      Pernahkah di dalam hidup kita selama ini bertanya, apa yang dimaksudkan Agama? Jika dalam kasat mata kita pasti agama adalah hal – hal religious yang menyangkut keyakinan serta kepercayaan seseorang, dan dengan percaya pastinya kita bisa taat terhadap semua ajarannya yang tentunya menuntun kita sebagai umat di bumi untuk menjalankan hal baik selama hidup.
     Agama (al-Din) dari istilah bahasa,
bermaksud: Kepercayaan dan keyakinan terhadap ajaran atau fahaman tertentu hanya dikaitkan dgn ibadat dan hubungan dengan Tuhan. Agama (al-Din) dari istilah Syarak bermaksud: Membenar dengan perkataan atau mengakui keEsaan Pencipta, mempercayai dan menyakini Pencipta serta apa yang disampaikannya, dengan sepenuh hati dan membuktikannya dengan amalan, di samping  melakukan apa yang diperintah serta meninggalkan apa yang dilarang. Al-Din mencakupi segenap aspek kehidupan, termasuk hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam.
Namun para pakar sendiri memiliki defines bahwa agama memiliki pengertian secara etimologi, kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari istilah bahasa Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri dari kata “a” yang berarti “tidak”, dan “gama” berarti kacau. Dengan demikian, agama adalah sejenis peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengantarkan menusia menuju keteraturan dan ketertiban. Ada pula yang menyatakan bahwa agama terangkai dari dua kata, yaitu a yang berarti “tidak”, dan gam yang berarti “pergi”, tetap di tempat, kekal-eternal, terwariskan secara turun temurun. Pemaknaan seperti itu memang tidak salah karena dalam agama terkandung nilai-nilai universal yang abadi, tetap, dan berlaku sepanjang masa. Sementara akhiran a hanya memberi sifat tentang kekekalan dankarena itu merupakan bentuk keadaan yang kekal.


Daftar Pustaka 


      Kamaruddin, Rahmat. (2012). Pengertian Agama. Diambil tanggal 18 Maret 2014, dari http://penaraka.blogspot.com/2012/04/pengertian-agama.html


   Anonim. Apa Itu Agama?. Diambil tanggal 18 Maret, dari http://edu4u.edublogs.org/isu/asas-asas-islam/apa-itu-agama/#ixzz2wJO1H2Yq

Senin, 17 Maret 2014

Etnis



     Pertanyaan yang selalu muncul ketika bertemu orang-orang baru adalah pertanyaan “orang darimana?” Jawaban yang menunjuk pada wilayah geografis, namun juga seringkali tidak memuaskan. Dalam masyarakat Indonesia, jawaban yang diharapkan tidak jauh dari asal etnik. Jadi, pertanyaan “anda orang darimana?” sering sama berarti dengan “etnik anda apa?”  

     Ya, "etnis" jika dilihat dari namanya yang langsung ada dibenakan kita pasti ialah suatu “suku bangsa” namun tidak hanya mencakup hal itu saja tetapi etnis disini lebih mengarah juga kepada penggolongan manusia berdasarkan kepercayaan, nilai, kebiasaan, adat istiadat, norma bahasa, sejarah, geografis dan hubungan kekerabatan (Pasal 1 Angka 3 Undang-Undang No. 40 tahun 2008). Terkadang etnis juga disangkut pautkan pada ras tapi tetap saja berbeda dengan pengertian ras. Seperti yang diungkap oleh Coakley (2001:243) “...it refers to the cultural heritage of particular group of people”.  Jadi, etnis mengacu pada warisan budaya dari kelompok orang tertentu. Maguire, et al (2002: 140) menjelaskan juga bahwa “the term ethnic become a precise word to use regarding people of varying origins”.  Jadi, istilah etnis menjadi sebuah kata yang tepat untuk memandang orang dari berbagai asal-usul. Lebih lanjut diungkapkan pula bahwa etnis mungkin dipertimbangkan dalam istilah kelompok apapun yang didefinisikan atau disusun oleh asal-usul budaya, agama, nasional atau beberapa kombinasi dari kategori-kategori tersebut (Maguire, et al, 2002:134). Pengertian-pengertian etnis membentuk pengertian kelompok etnis. Kelompok etnis merupakan sebuah kategori orang yang berbeda secara sosial karena mereka membagi sebuah jalan kehidupan dan komitmen pada segala sesuatu cita-cita, norma-norma, dan meteril yang terdapat pada jalan kehidupan itu (Coakley, 2001:143). Greely dan McCready dalam Maguire, et al (2002:135) berpendapat bahwa kelompok etnis adalah sebuah kolektivitas yang didasarkan pada dugaan asal-usul yang lazim dengan sebuah sifat menarik yang menandai mereka diluar atau yang tetap menanamkan mereka pada keanehan dengan populasi asli dalam kampung pedalaman. Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut di atas, maka terdapat dua istilah yaitu etnis dan kelompok etnis. Etnis mengacu pada orang yang didasarkan pada asal-usul sebagai warisan budaya kelompok orang tertentu. Kelompok etnis merupakan suatu kelompok manusia yang memiliki jalan kehidupan dan memiliki sifat serta karakteritik yang menarik.



     Demikianlah, identitas etnik penting di Indonesia. Umumnya orang Indonesia melakukan pengolahan informasi sosial orang lain berdasarkan asal etnik. Hal ini merupakan kewajaran karena Indonesia memang dikelompokan berdasarkan kelompok etnik. Maka kelompok etniklah yang menjadi salah satu referensi utama dalam menilai orang, bukannya menurut wilayah secara geografis atau agama. Salah satu yang mendorong terbentuknya identitas etnik adalah kesamaan-kesamaan sesama anggota etnik yang terbentuk melalui kesamaan proses belajar, kesamaan pengalaman, dan kesamaan latar belakang, hal mana membuat mereka memiliki kesamaan adat dan perilaku.  Kesamaan dalam kelompok belum cukup untuk menebalkan identitas etnik. Dalam proses untuk mengalami perasaan se identitas, mereka juga memerlukan kehadiran entitas atau etnik lain sebagai komparasi dan penegas identitas tersebut. Identitas etnik merupakan hasil dari interaksi sosial. Kelompok yang tidak berinteraksi dengan kelompok lain mungkin tidak akan menyadari bahwa mereka memiliki kesamaan-kesamaan yang besar. Hanya dengan interaksi dengan kelompok lain identitas etnik mereka terbangun, dan semakin intens interaksi itu, semakin berkembang pula identitas etnisnya.
  


     Kita tidak saja mendefinisakan etnis secara mendasar namun jika dilihat pengertian etnis dari sumber serta tokoh kita pun bisa menarik kesimpulan apa itu etnis sebenarnya.
·        Sementara itu pengertian dari etnik dari berbagai sumber ialah:
1. Dalam Ensiklopedia Indonesia disebutkan istilah etniik berarti kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya.
2. Menurut Frederich Barth (1988) istilah etnik menunjuk pada suatu kelompok tertentu yang karena kesamaan ras, agama, asal-usul bangsa, ataupun kombinasi dari kategori tersebut terikat pada sistem nilai budayanya.
3. Menurut Anthony Smith, komunitas etnis adalah suatu konsep yang digunakan untuk menggambarkan sekumpulan manusia yang memiliki nenek moyang yang sama, ingatan sosial yang sama (Wattimena, 2008), dan beberapa elemen kultural. Elemen-elemen kultural itu adalah keterkaitan dengan tempat tertentu, dan memiliki sejarah yang kurang lebih sama.
·        Sementara itu pengertian dari etnik dari berbagai tokoh adalah:
1. Fredrick Barth
Etnis adalah himpunan manusia karena kesamaan ras, agama, asal-usul bangsa ataupun kombinasi dari kategori tersebut yang terikat pada sistem nilai budaya
2. Hassan Shadily MA
Suku bangsa atau etnis adalah segolongan rakyat yang masih dianggap mempunyai hubungan biologis.
3. Menurut Ensiklopedi Indonesia Etnis berarti kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya. Anggota-anggota suatu kelompok etnik memiliki kesamaan dalam hal sejarah (keturunan), bahasa (baik yang digunakan ataupun tidak), sistem nilai, serta adat-istiadat dan tradisi.
4. Menurut Perspektif Teori Situasional, Etnis merupakan hasil dari adanya pengaruh yang berasal dari luar kelompok. Salah satu faktor luar yang sangat berpengaruh terhadap etnisitas adalah kolonialisme, yang demi kepentingan administratif pemerintah kolonial telah mengkotak-kotakkan warga jajahan ke dalam kelompok-kelompok etnik dan ras (Rex dalam Simatupang, 2003). Untuk seterusnya sisa warisan kolonial itu terus dipakai sampai sekarang.



    Kesimpulan :

     Dari pengertian diatas bisa disimpulkan bahwa etnis adalah sekumpulan manusia yang memiliki kesamaan ras, adat, agama, bahasa, keturunan dan memiliki sejarah yang sama sehingga mereka memiliki keterikatan sosial sehingga mampu menciptakan sebuah sistem budaya dan mereka terikat didalamnya.



Refleksi :



     Jika dalam kehidupan saya sendiri yang dapat saya refleksikan tentunya sebagai contoh, terkadang orang selalu bilang “keturunan cina ya?” “papa mama nya orang cina ya?” mungkin karena mata saya sipit dan kulit saya agak terang sehingga orang mengira saya berasal dari cina, walaupun pada kenyataannya saya asli Jawa dan Sunda. Tidak merugikan bagi saya, hanya saja saya dapat menyimpulkan dari pernyataan di atas serta kehidupan nyata yang saya alami bahwa orang masih menilai etnik yang dilihat berdasarkan  fisik bukannya dari segi lainnya. Maka saya setuju jika etnis dilihat dari beberapa orang yang memiliki kesaam ras, agama, keturunan, dan memang meiliki sejarahnya dari leluhur dan melainkan bukan dari segi fisik aja.


Daftar pustaka :


 Mendatu, Achmanto. (2007). Etnik dan etnisitas. Diambil tanggal 16 Maret 2014, dari

 Iskandar. (2011). Etnis & Suku Bangsa. Diambil tanggal 16 Maret 2014, dari