Dalam usaha untuk mencapai
pengetahuan mengenai kodrat tak tercipta yang mencipta ini, manusia dapat
menggunakan jalan affirmative dan nonaffirmatif. Dengan jalan affirmative kita
menegaskan sifat sifat positif dari ciptaan sebagai hasil penyebaban oleh
Allah. Dua jalan ini dipinjar oleh Scotus dari Ps. Dyonisius. Atau pengaruh Ps.
Dyonisius pula bahwa Scotus menganjurkan agar Allah tidak disebut Kebenaran
atau Kebijaksanaan atau Essensi, sebab
tidak ada sebutan yang dipinjam dari ciptaan dapat digunakan bagi Allah dalam
arti yang tepat akan sebutan – sebutan itu diterapkan kpada Allah secara
metamorphosis. Bagi Scotus, jalan negative lebih penting, karena arti kata
“Maha” tidak pernah terjangkau oleh budi manusia, sehingga bagi budi sama
dengan tidak jelas artinya. Maka meskipun kita tahu bahwa Allah ada, kita tidak
tahu apa itu Allah, “Apa” nya Allah tidak dapat dimengerti oleh manusia karena
Ia mengatasi budi. Sama kategori tidak dapat dikenakan kepada Allah secara
memadai.
Kalau
semua kategori tidak dapat dikenakan kepada Allah, mungkinkah menerapkan kata
“gerak” kepada Allah? Tidak! Bahkan mencipta atau membuat pun bukanlah melekat
pada Allah. Bagaimana dengan ajaran Kitab Suci bahwa Allah menciptakan segala
sesuatu? Scotus menjawab: Pertama,
kita tidak dapat mengatakan bahwa Allah berada sebelum karya ciptaanNya,
berarti bahwa Allah terlibat dalam waktu dan tindakannya hanyalah merupakan
aksiden. Hal ini tidak mungkin. Maka karya Allah harus abadi seperti Dia
sendiri abadi adanya. Kedua, bahkan seandainya karya
Allah abadi dan dentik denganNya, dan bukan eksiden di dalam Allah, kita tidak
dapat mengatakan bahwa Allah mempunyai gerak. Lalu apa artinya bahwa Allah
menciptakan segalanya? Jawab-nya : “Kalau kita mendengar bahwa Allah
menciptakan segalanya, kita harus mengertinya bahwa Allah berada di dalam
segalanya, yaitu bahwa Allah merupakan essensi segalanya”.?
Sementara
Scotus menekankan perbedaan antara Allah dan ciptaan, ia ingin juga menekankan
pengertian akan Allah sebagai suatu Kenyataan yang memuat segalanya. Sejauh
setiap ciptaan merupakan partisipapsi di dalam Dia, satu – satunya yang ada
dari dirinya sendiri, semua kodrat dapat direduksi ke satu Prinsip, yaitu
Pencipta, dan pencipta beserta seluruh ciptaan dapat dipandang sebagai suatu
kesatuan.
B. Nature Create Creane
Bagian
kedua dari kodrat menunjuk kepada “sebab-sebab primordial atau
“predestinationes” ini merupakan sebab exemplar dari species tercipta dan sebab
– sebab itu hadir di dalam sabda.
Bukankah ini merupakan pantheisma a la Spiroza?
Allah: mereka adalah ide-ide ilahi,
prototype dari semua essensi tercipta, Kelahiran Sang Sabda atau Putara
melibatkan tata abadi dari sebab – sebab exemplar di dalam Sang Sabda.
Kelahiran Sang Sabda bukanlah proses temporal, melainkan proses abadi. Demikian
juga halnya dengan tata praedestinationes. Prioritas Sabda terhadap sebab –
sebab exampler merupakan prioritas logis dan bukannya temporal. Munculnya sebab
– sebab exampler ini merupakan bagian dari prosesi Sang Sabda
melalui”kelahiran’, dan hanya dalam arti inilah bahwa mereka dapat dikatakan
sebagai diciptakan. Sama ciptaan mengambil bagian di dalam sebab – sebab
exemplar, misalnya kebijaksanaan di dalam Sang Bijkaksana.
Sumber : Slide Binus Maya.
Sumber : Slide Binus Maya.
Diva, blog kamu sangat menarik. Nilainya adalah 90
BalasHapusPost-nya menarik, kalau bisa di tambah gambar tokohnya-tokonya. Nilai yang saya berikan : 85
BalasHapusCukup baik, kalau bisa ditambah pengertian Logika. Karna filsafat dan Logika
BalasHapusNilainya: 85